Jumat, 04 Mei 2012

PUISI BARU


NYANYIAN PENDIDIKAN
Oleh;Aji Santosa,Spd

Seutas tali masih mencengkram
Jembatan kayu yang rapuh
Tempat titian langkah-langkah
Anak berseragam sekolah
Menuju sebuah harapan
Aku pun terus bernyanyi
Menggelinjang dengan deru pendidikan
Diantara standar kelulusan yang semakin sumbang
Menjerat langkah-langkah mereka
Lihatlah
Anak-anak berseragam di titian jembatan
Meraka terlalu muda
Menerima standar yang kalian berikan
Mereka tidak bisa berjalan
Sebanding dengan pelajar-pelajar kota
Ah,
Aku semakin tidak mengerti
Mau dibawa kemana kita
Haruskah aku tetap bergeming
Tidak
Aku harus tetap meradak
Mencuci otak-otak mereka
Menggubah pendidikan berirama
Yang bisa dinyanyikan dengan nada dasar
Yang berbeda-beda























PAKIEM YANG DILUPAKAN
Oleh : Bunda Dini

Matahari masih terbit pagi ini
Lalu apa kabar pendidikan
Melihat kali yang mengarah ke lautan
Dengungan suara lebah hutan yang menggerumbul
Matahari kini sepenggalan tingginya
Dan menjadi saksi kita berkumpul disini
Di tengah maraknya CBSA,KBK,KTSP
Untuk bereingkarnasi
Dibenakku masih ada yang mengganjal
Sebenarnya untuk siapa engkau dinikmati
Sementara itu di sekolahnya mereka asik cating,brosing
Untuk murid-muridnya agar kelak bisa meneruskan bangsa
Sekarang matahari semakin tinggi
Lalu aku bertanta di puncak kepala
Dan dalam udara yang panas kita bertanya
Aku bingung aku resah dimana letak salahnya
Kita didik untuk memihak yang mana ?
Akan jadi alat pembebasan ataukah penindasan ?
Kami yang ada disini Cuma bisa jadi pemimpin
Bermimpi sepuas hati & ketika bangun harus menangis lagi
Sebentar lagi matahari akan tenggelam
Malam akan tiba & cicak-cicak berbunyi di tembok
Dan rembulan mulai berlayar tetapi
Pertanyaan kita tidak akan mereda







PESAN ANAK MUDA ZAMAN KEEMASAN
Oleh : Siti Watati

Mata terlembus bening cahaya
Celah langit mulai terbuka
Ukir cakrawala dunia  yang penuh romantika
Bidik kreasi diri,inovasi,persati dari dini
Wahai kaum muda. . . perasaan
Bukalah mata,hati,pikiran dengan jeli
Tantangan,rintangan,hambatan menghadang di kelopak mata
Pandailah memilih,memilah,menyaring,membidik
Dengan benar dan jujur
Gelombang kini menghadang di depan mata
Tetapkan iman dan keteguhan jiwa
Wahai harapkan bangsa
Di zaman ini aksi oma menjelma penuh mahir

ANAK-ANAK BERNYANYI DI JALANAN
                                                            Oleh : Agus Triono

Anak-anak bernyanyi dijalanan
Melagukan tembang kehidupan
Baginya seperti bermain di lapangan
Tempat dulu pernah sekolah
Namun hanya sampai kelas dua
Anak-anak bernyanyi diperempatan
Sambil tengadahkan tangan
Keringat dan peluk menetes sekujur tubuh
Kaos kumal kini adalah baju seragamnya
Anak-anak bernyanyi di pinggir trotoar
Melapas lelah
Sambil matanya tajam memandang
Lalu lalang lalu lintas kota
Siapa tahu ada yang melempar sedekah
Anak-anak bernyanyi di sela kebisingan
Memandang jauh ke depan
Pada ruang kelas sekolah
Yang dicita-citakan
Anak-anak terus bernyanyi
Menjelma maghrib
Pulang ke gubug kumuhnya
Nyanyian melebur doa
Saat sujudnya meneteskan air mata
                                                               


















JERIT ANAK NEGERI
Oleh : Yani Eka Sari,SPd

Sahut terpaut kering berderak
Menatap hari berelukan mesra dengan keringat pasir
Akulah anak buruh
Suaraku bukan dibangku sekolah
Penaku bukan  di atas kertas
Tapi ditumpukan sampah dengan sejuta aroma
Setiap matahari terbit
Ku lihat ribuan anak bersorak sorai
Menyongsong pagi dengan berjuta harap
Berlari kecil bercanda,tertawa,di bangku sekolah
Tapi lihatlah aku duhai negeri
Masih saja bergelut dengan seribu sampah
Bau busuk jadi satu dalam tubuh
Lekat dan penuh nikmat
Tiada hentinya
Semantau menari-nari
Mencari huruf-huruf semu
Bagaimana aku mendapatkannya
Kemana aku merangkainya
Kedua mataku menutup jam dinding
Menghitung waktu demi waktu
Detik demi detik
Tanpa pernah petus asa
Aku larut dalam semangat
Jemariku larut dalam lelah
Waktu terus berporos pada kenyataan dunia
Tak bergeming menatap cucuran keringat
Mengucap salam sampai menggema
Di cakrawala dunia




JANGAN BIARKAN MERAH PUTIH
TAK BERKIBAR
Oleh : Andy Prasetyo,SPd
Memang. . . bangku penuh bribik itu bisa  berkata
`     Memang. . .dinding retak pun hanya diam
Ditemani langit-langit kelas belubang,kelam. . .
Papan tulis pun terpaku di belakang meja guru
Dengan bekas sejak dari coretan-coretan kapur
Karya sastria siswa kelas lima berisi pujian pada gurunya
Memang lonceng itu sudah penuh karat
Bendera di halaman itu sudah tak
Merah dan putih lagi dekil,menggigil terabai hingga abis sore
Namun,saat tunas bangsa dalam simponimu
Mereka pun bernyanyi
Saat mereka dalam tutur petuahmu,mereka mengamini
Mereka gembira dalam model belajarmu
Membara saat kau kobarkan semangat
Di dada mereka bangga saat kau ceritakan
Meja kursi,dinding
Menjadi setting drama kejujuran,Drama ketulusan aktor guru sederhana. . .
Mengabdi pada bangsa
Terus. . .berjuanglah saudaraku. . .
Meski lencana tak ada di dada
Meski gaji tak mncukupi
Bagi mereka kau tetep di hati
Terus kibarkan  merah-putihmu
Pada bening bola mata mereka
Tebarkan puisi tentang cinta pada ibu pertiwi
Jangan patah sayap. . .
Tidak ada guru negeri
Tidak ad guru swasta
Yang ada hanyalah guru bangsa
Jangan biarkan Merah-putih tak berkibar
Teruslah menjadi angin sejuk
Betiup di sekolah yang sederhana






Pahlawan Cendekia
Oleh. Ekowati

Gadis gadis mungil
Berjalan menyusuri jalan setapak
Berseragam dan bersepatu
Tas sekolah melekat dipunggungmu
Senyum harapan mengembang di bibirmu
Ketika bangunan tua itu terlihat
Bangunan tua itu . . . . . .
Saksi bisu tempat kita menimba ilmu
Atap berhiaskan lubang
Alas berkubang
Tapi . . . . .
Semangatmu berbintang
Manakala gadis-gadis kecil
Salah jalan, patah arah, lelah mencapai cita
Suara lembutmu sadarkan mereka
Bangunkan mereka dari kegelapan
Mengajari dengan pelan
Mendidik dengan pintar
Membimbing dengan bijak
Pedoman selalu di genggam
Oh pahlawan cendekia
Lelahmu kau pendam
Sakitmu kau lawan
Demi anak bangsa
Pejabat yang duduk di kursi emas
Presiden yang berdiri di istana megah
Itulah bukti nyata kegigihanmu
Yang terabaikan banyak orang
Ku ucapkan terimakasih
Karena kau telah memberi kami kasih
Berikan senyum manismu untuk negeri
Dengan segudang prestasi
Agar negeri bangga kau miliki






Puisi Buat Anakku
Oleh: Narto Supardi

Wahai, anakku
Teruslah terbang, terbang, dan terbanglah terus
Gantungkan asa di bintang, lalu gapailah
Raih citamu pada kerlip malamnya
Jangan sampai engkau terperangkap dalam kelamnya
Wahai, anakku
Selaksa jalan untuk menuai ilmu
Janganlah engkau silau dengan gemerlap formalitas!
Walau belajar dengan perbot seadanya
Tanpa gedung sekolah an mewah
Tanpa atribut gemerlap yang seolah di paksa
Karena memang jauh dari jangkauan kita
Karena memang ayah tak punya apa
Namun, tetaplah engkau bersemangat
Wahai, anakku
Walau engkau hanya bisa belajar di sekolah buritan
Walau engkau ke sekolah dengan kaki telajang
Yakinlah, ilmu hakiki tetap bisa kau raih
Jika tetes keringatmu adalah gumpalan baja
Tetaplah engkau semangat, anakku



Ku pinjam Pelangimu
Oleh: Joseph Goenaedhy
Kulihat warna-warni indah di mata
Memancarkjan pesona meggila di jiwa
Seyum keramahan penuh warna
Menggema meruntuhkan perasaan
Bunga kan mekar dan harumkan
Segenap terjun alam nirwana
Wangikan sudut hati
Yang hamper mati tanpa ekspresi
Begitulah cinta seolah tak terasa
Melambungkan sejuta selaksa
Begitulah rindu seolah tak selaksa
Angankan peluh dan rayuan di batinmu








Bayang Kerinduan
Oleh: Joseph Goenaedhy
Pagi seiring mentar berseri
Lalui malam yang kian pudar
Berharap kejenuhan menghilang
Di tepis bayang kerinduan
Terbang melayang tinggi di angkasa
Tatap dunia yang penuh merona
Sejuta kesejukan terpancar di jiwa
Redam hati penuh cinta
Aku rindu waktu bersama
Menggapai masa depan menjelang
Aku rindu hapus hampa
Sematkan cinta penuh Makna








Tanpa Kata
Oleh: Joseph Goenaedhy
Rasa yang menggelora hampa
Saat kau tinggalkan sepucuk pesan
Tak sepatah kata mampu ku ucapkan
Terselip sepi kehilangan
Masih terbayang senyum keindahan
Memudar seiring jalannya waktu
Perih yang dulu ada, tinggalkan
Membekas dan tersimpan di hati
Kau pergi dan entah kapan kembali
Berikan perasaan yang kian hilang
Kau tak kembali dan entah terlupa
Berikan kesedihan yang terdalam








Ketika Saat itu
Oleh: Joseph Goenaedhy
Masih tergambar jelas di benakku
Wajah manis ayu dan mempesona
Alirkan sejuta senyum keindahan
Selalu iringi hari tanpa henti
Dan ketika senyummu telah pergi
Aku tak mampu lagi bernyanyi
Suarakan kedamaian berirama sunyi
Tersudut dalam relung kesenduan
Hanya senyummu yang mampu ku merindu
Hanya dirimu yang dapat beri semua arti
Hingga waktu yang berbicara memisahkan kita
Tanpa kita bisa meminta tak bersama








Menjelajah
Oleh: Joseph Goenaedhy
Saat kulihat pucuk-pucuk pinus
Jiwaku seolah mengembara
Menembus batas alam dan manusia
Terbang diatas hamparan awan putih
            Saat ku tersadar dan pahami
            Jalan yang kulalui tak menentu
            Diiringi hujan yang basahi
            Temani sepanjang perjalanan ini
Berlari terus berlari . . . .  mencari sebuah ketenangan hati
Mencari terus mencari  . .  . .  arti diri lalui hari
Akhirnya ku mengerti bahwa hidup ini
Penuh arti








Terpasung Sepi
Oleh: Joseph Goenaedhy
Terpasung angan di hati
Lihatmu terdiam merenungi sepi
Ku tak mampu pahami
Sikapmu berbeda tanpa merasa
Aku sadari ku tak bisa
Aku pun mencoba selalu setia
Kurelakan bila kau beralih cinta
Ku ikhlaskan kau tinggalkan kepedihan
Doaku kau temukan kebahagiaan
Selain denganku biarkan ku sepi  . . . . .
Terbayang sekilas senyuman
Saat kau ada temani waktuku
Kau tak mampu mengerti
Sikapmu berubah . . . . tinggalkanku






Aku kan warnai cintamu
Oleh: Joseph Goenaedhy
Ku masih lekat dengan bayangmu
Tak beranjak dan takkan pergi
Membekas dalam sebuah kerinduan
Aku adalah manusia juga
Yang mampu merasa
Sedikit cinta
Dari berjuta pesona
Tapi kusadari aku jauh dari sempurna
Ku juga merasa tak semampu mereka
Ku hanya beri cinta bukan harta
Apalagi tahta
Tapi cintaku penuh warna dan rasa
Yang iringi hari dan waktumu
Jalani dunia hingga nirwana
Setia ku jaga





Pelangi Cinta
Oleh: Joseph Goenaedhy

Hai . . . .  biru kau mampu damaikan hatiku
Kau merah wujudkan keberanian nyata
Dan kau kuning pancarkan alam di mimpi
Kau hijau senyum keindahan alam buana
Semua warna warna dunia
Semua bukti nyata cinta kita
Ku inginkan kau sadari semua
Bahwa kita punya cinta
Punya cinta





           

Kamis, 03 Mei 2012

PUISI ANYAR


HARMONI SUDUT KOTA
Oleh Joseph Goenaedhy,S.Pd

Jika kehidupan adalah lukisan
Gurat batu hati penentu arah
Resapi sudah masa lalu
Sejuknya embun bangun kepribadian kita
Tuk hormat dan senantiasa jaga usia kita
Segala puja senandungkan mesra
Hadapi rancangan agung Yang Kuasa
Berlari dan terus berlari
Itulah dinamika penjuru kota
Entah kapan kita terakhir berhenti
Mengejar  selarik pelangi yang hampiri
“Selamat pagi pak guru”
Berpaling senyum dengan logika
Bertaruh harap sesak tak merisau
Bergelut dengan segudang ilmu menggebu
Bertempur dengan sejuta keluh peluh
Bersahabat dengan tawa mentari
Mencari, meraih secuil mimpi
Doa tak pernah padam dari telinga
Maaf , jalani dengan kenyataan
Gelagat angan mengembara
Mengumpulkan seperih ceria
Sampah sampah dunia jadi saksi
Karna kau aku hidup
Takdir pertemukan tuk bersama
Mungkin aku berdosa
Tapi ku cukup berbakti
Penuhi keinginan hati
Dan senyum mereka
Menggapai sepenggal asa
Mengais sedikit isi bumi
Dari sebukit  limbah melimpah
Terbanglah bersama,wahai garuda muda
Ku kotor bukan tak ingin bersih
Ku diam bukan berarti tak teriak
Ku lemah bukan berarti tak mampu
Goreskan indah warna pelangi
bukan terbuang
Raih inspirasi lama yang menghilang
Redam hati meretak
Berjuang belajar dari sejarah
Meraih sesuatu yang turun dari langit
Teman atau lawan?
Musuh atau sahabat?
Semua hanya sandiwara budaya
Jalani sepenuh hati
Tak soal nada apa yang kau pilih
Tak penting bait mana yang kau seru
Ini puisi bukan politik
Cita cita kan tetap ada dengan doa mereka
Tergantung tinggi di medali garuda muda
melayang tinggi menjulang