Minggu, 06 Mei 2012
Jumat, 04 Mei 2012
PUISI BARU
NYANYIAN
PENDIDIKAN
Oleh;Aji
Santosa,Spd
Seutas
tali masih mencengkram
Jembatan
kayu yang rapuh
Tempat
titian langkah-langkah
Anak
berseragam sekolah
Menuju
sebuah harapan
Aku
pun terus bernyanyi
Menggelinjang
dengan deru pendidikan
Diantara
standar kelulusan yang semakin sumbang
Menjerat
langkah-langkah mereka
Lihatlah
Anak-anak
berseragam di titian jembatan
Meraka
terlalu muda
Menerima
standar yang kalian berikan
Mereka
tidak bisa berjalan
Sebanding
dengan pelajar-pelajar kota
Ah,
Aku
semakin tidak mengerti
Mau
dibawa kemana kita
Haruskah
aku tetap bergeming
Tidak
Aku
harus tetap meradak
Mencuci
otak-otak mereka
Menggubah
pendidikan berirama
Yang
bisa dinyanyikan dengan nada dasar
Yang
berbeda-beda
PAKIEM YANG DILUPAKAN
Oleh : Bunda Dini
Matahari masih terbit pagi ini
Lalu apa kabar pendidikan
Melihat kali yang mengarah ke lautan
Dengungan suara lebah hutan yang
menggerumbul
Matahari kini sepenggalan tingginya
Dan menjadi saksi kita berkumpul
disini
Di tengah maraknya CBSA,KBK,KTSP
Untuk bereingkarnasi
Dibenakku masih ada yang mengganjal
Sebenarnya untuk siapa engkau
dinikmati
Sementara itu di sekolahnya mereka
asik cating,brosing
Untuk murid-muridnya agar kelak bisa meneruskan
bangsa
Sekarang matahari semakin tinggi
Lalu aku bertanta di puncak kepala
Dan dalam udara yang panas kita
bertanya
Aku bingung aku resah dimana letak
salahnya
Kita didik untuk memihak yang mana ?
Akan jadi alat pembebasan ataukah penindasan
?
Kami yang ada disini Cuma bisa jadi
pemimpin
Bermimpi sepuas hati & ketika
bangun harus menangis lagi
Sebentar lagi matahari akan tenggelam
Malam akan tiba & cicak-cicak
berbunyi di tembok
Dan rembulan mulai berlayar tetapi
Pertanyaan kita tidak akan mereda
PESAN ANAK MUDA ZAMAN
KEEMASAN
Oleh : Siti Watati
Mata terlembus bening cahaya
Celah langit mulai terbuka
Ukir cakrawala dunia yang penuh romantika
Bidik kreasi diri,inovasi,persati
dari dini
Wahai kaum muda. . . perasaan
Bukalah mata,hati,pikiran dengan jeli
Tantangan,rintangan,hambatan
menghadang di kelopak mata
Pandailah
memilih,memilah,menyaring,membidik
Dengan benar dan jujur
Gelombang kini menghadang di depan
mata
Tetapkan iman dan keteguhan jiwa
Wahai harapkan bangsa
Di zaman ini aksi oma menjelma penuh
mahir
ANAK-ANAK BERNYANYI DI
JALANAN
Oleh
: Agus Triono
Anak-anak
bernyanyi dijalanan
Melagukan
tembang kehidupan
Baginya
seperti bermain di lapangan
Tempat
dulu pernah sekolah
Namun
hanya sampai kelas dua
Anak-anak
bernyanyi diperempatan
Sambil
tengadahkan tangan
Keringat
dan peluk menetes sekujur tubuh
Kaos
kumal kini adalah baju seragamnya
Anak-anak
bernyanyi di pinggir trotoar
Melapas
lelah
Sambil
matanya tajam memandang
Lalu
lalang lalu lintas kota
Siapa
tahu ada yang melempar sedekah
Anak-anak
bernyanyi di sela kebisingan
Memandang
jauh ke depan
Pada
ruang kelas sekolah
Yang
dicita-citakan
Anak-anak
terus bernyanyi
Menjelma
maghrib
Pulang
ke gubug kumuhnya
Nyanyian
melebur doa
Saat
sujudnya meneteskan air mata
JERIT ANAK NEGERI
Oleh : Yani Eka Sari,SPd
Sahut terpaut kering
berderak
Menatap hari berelukan
mesra dengan keringat pasir
Akulah anak buruh
Suaraku bukan dibangku
sekolah
Penaku bukan di atas kertas
Tapi ditumpukan sampah
dengan sejuta aroma
Setiap matahari terbit
Ku lihat ribuan anak
bersorak sorai
Menyongsong pagi dengan
berjuta harap
Berlari kecil
bercanda,tertawa,di bangku sekolah
Tapi lihatlah aku duhai
negeri
Masih saja bergelut
dengan seribu sampah
Bau busuk jadi satu
dalam tubuh
Lekat dan penuh nikmat
Tiada hentinya
Semantau menari-nari
Mencari huruf-huruf
semu
Bagaimana aku
mendapatkannya
Kemana aku merangkainya
Kedua mataku menutup
jam dinding
Menghitung waktu demi
waktu
Detik demi detik
Tanpa pernah petus asa
Aku larut dalam
semangat
Jemariku larut dalam
lelah
Waktu terus berporos
pada kenyataan dunia
Tak bergeming menatap
cucuran keringat
Mengucap salam sampai
menggema
Di cakrawala dunia
JANGAN BIARKAN
MERAH PUTIH
TAK BERKIBAR
Oleh : Andy Prasetyo,SPd
Memang.
. . bangku penuh bribik itu bisa berkata
` Memang. . .dinding retak pun hanya diam
Ditemani
langit-langit kelas belubang,kelam. . .
Papan
tulis pun terpaku di belakang meja guru
Dengan
bekas sejak dari coretan-coretan kapur
Karya
sastria siswa kelas lima berisi pujian pada gurunya
Memang
lonceng itu sudah penuh karat
Bendera
di halaman itu sudah tak
Merah
dan putih lagi dekil,menggigil terabai hingga abis sore
Namun,saat
tunas bangsa dalam simponimu
Mereka
pun bernyanyi
Saat
mereka dalam tutur petuahmu,mereka mengamini
Mereka
gembira dalam model belajarmu
Membara
saat kau kobarkan semangat
Di dada
mereka bangga saat kau ceritakan
Meja
kursi,dinding
Menjadi
setting drama kejujuran,Drama ketulusan aktor guru sederhana. . .
Mengabdi
pada bangsa
Terus. .
.berjuanglah saudaraku. . .
Meski
lencana tak ada di dada
Meski
gaji tak mncukupi
Bagi
mereka kau tetep di hati
Terus
kibarkan merah-putihmu
Pada
bening bola mata mereka
Tebarkan
puisi tentang cinta pada ibu pertiwi
Jangan
patah sayap. . .
Tidak
ada guru negeri
Tidak ad
guru swasta
Yang ada
hanyalah guru bangsa
Jangan
biarkan Merah-putih tak berkibar
Teruslah
menjadi angin sejuk
Betiup
di sekolah yang sederhana
Pahlawan Cendekia
Oleh. Ekowati
Gadis gadis
mungil
Berjalan
menyusuri jalan setapak
Berseragam
dan bersepatu
Tas sekolah
melekat dipunggungmu
Senyum
harapan mengembang di bibirmu
Ketika
bangunan tua itu terlihat
Bangunan
tua itu . . . . . .
Saksi
bisu tempat kita menimba ilmu
Atap
berhiaskan lubang
Alas
berkubang
Tapi .
. . . .
Semangatmu
berbintang
Manakala
gadis-gadis kecil
Salah
jalan, patah arah, lelah mencapai cita
Suara
lembutmu sadarkan mereka
Bangunkan
mereka dari kegelapan
Mengajari
dengan pelan
Mendidik
dengan pintar
Membimbing
dengan bijak
Pedoman
selalu di genggam
Oh
pahlawan cendekia
Lelahmu
kau pendam
Sakitmu
kau lawan
Demi
anak bangsa
Pejabat
yang duduk di kursi emas
Presiden
yang berdiri di istana megah
Itulah
bukti nyata kegigihanmu
Yang
terabaikan banyak orang
Ku
ucapkan terimakasih
Karena
kau telah memberi kami kasih
Berikan
senyum manismu untuk negeri
Dengan
segudang prestasi
Agar
negeri bangga kau miliki
Puisi Buat Anakku
Oleh: Narto Supardi
Wahai,
anakku
Teruslah
terbang, terbang, dan terbanglah terus
Gantungkan
asa di bintang, lalu gapailah
Raih
citamu pada kerlip malamnya
Jangan
sampai engkau terperangkap dalam kelamnya
Wahai,
anakku
Selaksa
jalan untuk menuai ilmu
Janganlah
engkau silau dengan gemerlap formalitas!
Walau
belajar dengan perbot seadanya
Tanpa
gedung sekolah an mewah
Tanpa
atribut gemerlap yang seolah di paksa
Karena
memang jauh dari jangkauan kita
Karena
memang ayah tak punya apa
Namun,
tetaplah engkau bersemangat
Wahai,
anakku
Walau
engkau hanya bisa belajar di sekolah buritan
Walau
engkau ke sekolah dengan kaki telajang
Yakinlah,
ilmu hakiki tetap bisa kau raih
Jika
tetes keringatmu adalah gumpalan baja
Tetaplah
engkau semangat, anakku
Ku pinjam Pelangimu
Oleh: Joseph Goenaedhy
Kulihat warna-warni indah di mata
Memancarkjan pesona meggila di jiwa
Seyum keramahan penuh warna
Menggema meruntuhkan perasaan
Bunga kan mekar dan harumkan
Segenap terjun alam nirwana
Wangikan sudut hati
Yang hamper mati tanpa ekspresi
Begitulah cinta seolah tak terasa
Melambungkan sejuta selaksa
Begitulah rindu seolah tak selaksa
Angankan peluh dan rayuan di batinmu
Bayang Kerinduan
Oleh: Joseph Goenaedhy
Pagi seiring mentar
berseri
Lalui malam yang kian
pudar
Berharap kejenuhan
menghilang
Di tepis bayang kerinduan
Terbang melayang tinggi
di angkasa
Tatap dunia yang penuh
merona
Sejuta kesejukan
terpancar di jiwa
Redam hati penuh cinta
Aku rindu waktu bersama
Menggapai masa depan
menjelang
Aku rindu hapus hampa
Sematkan cinta penuh
Makna
Tanpa Kata
Oleh: Joseph Goenaedhy
Rasa
yang menggelora hampa
Saat
kau tinggalkan sepucuk pesan
Tak
sepatah kata mampu ku ucapkan
Terselip
sepi kehilangan
Masih
terbayang senyum keindahan
Memudar
seiring jalannya waktu
Perih
yang dulu ada, tinggalkan
Membekas
dan tersimpan di hati
Kau
pergi dan entah kapan kembali
Berikan
perasaan yang kian hilang
Kau
tak kembali dan entah terlupa
Berikan
kesedihan yang terdalam
Ketika Saat itu
Oleh: Joseph Goenaedhy
Masih tergambar jelas di benakku
Wajah manis ayu dan mempesona
Alirkan sejuta senyum keindahan
Selalu iringi hari tanpa henti
Dan ketika senyummu telah pergi
Aku tak mampu lagi bernyanyi
Suarakan kedamaian berirama sunyi
Tersudut dalam relung kesenduan
Hanya senyummu yang mampu ku merindu
Hanya dirimu yang dapat beri semua arti
Hingga waktu yang berbicara memisahkan kita
Tanpa kita bisa meminta tak bersama
Menjelajah
Oleh: Joseph Goenaedhy
Saat kulihat pucuk-pucuk pinus
Jiwaku seolah mengembara
Menembus batas alam dan manusia
Terbang diatas hamparan awan putih
Saat ku
tersadar dan pahami
Jalan yang
kulalui tak menentu
Diiringi hujan
yang basahi
Temani
sepanjang perjalanan ini
Berlari terus berlari . . . .
mencari sebuah ketenangan hati
Mencari terus mencari
. . . . arti diri lalui hari
Akhirnya ku mengerti bahwa hidup ini
Penuh arti
Terpasung Sepi
Oleh: Joseph Goenaedhy
Terpasung
angan di hati
Lihatmu
terdiam merenungi sepi
Ku
tak mampu pahami
Sikapmu
berbeda tanpa merasa
Aku
sadari ku tak bisa
Aku
pun mencoba selalu setia
Kurelakan
bila kau beralih cinta
Ku
ikhlaskan kau tinggalkan kepedihan
Doaku
kau temukan kebahagiaan
Selain
denganku biarkan ku sepi . . . . .
Terbayang
sekilas senyuman
Saat
kau ada temani waktuku
Kau
tak mampu mengerti
Sikapmu
berubah . . . . tinggalkanku
Aku kan warnai cintamu
Oleh: Joseph Goenaedhy
Ku masih
lekat dengan bayangmu
Tak beranjak
dan takkan pergi
Membekas
dalam sebuah kerinduan
Aku adalah
manusia juga
Yang mampu
merasa
Sedikit
cinta
Dari berjuta
pesona
Tapi
kusadari aku jauh dari sempurna
Ku juga
merasa tak semampu mereka
Ku hanya
beri cinta bukan harta
Apalagi
tahta
Tapi cintaku
penuh warna dan rasa
Yang iringi
hari dan waktumu
Jalani dunia
hingga nirwana
Setia ku
jaga
Pelangi
Cinta
Oleh:
Joseph Goenaedhy
Hai .
. . . biru kau mampu damaikan hatiku
Kau
merah wujudkan keberanian nyata
Dan
kau kuning pancarkan alam di mimpi
Kau
hijau senyum keindahan alam buana
Semua
warna warna dunia
Semua
bukti nyata cinta kita
Ku
inginkan kau sadari semua
Bahwa
kita punya cinta
Punya
cinta
Kamis, 03 Mei 2012
PUISI ANYAR
HARMONI
SUDUT KOTA
Oleh
Joseph Goenaedhy,S.Pd
Jika
kehidupan adalah lukisan
Gurat
batu hati penentu arah
Resapi
sudah masa lalu
Sejuknya
embun bangun kepribadian kita
Tuk
hormat dan senantiasa jaga usia kita
Segala
puja senandungkan mesra
Hadapi
rancangan agung Yang Kuasa
Berlari
dan terus berlari
Itulah
dinamika penjuru kota
Entah
kapan kita terakhir berhenti
Mengejar selarik pelangi yang hampiri
“Selamat
pagi pak guru”
Berpaling
senyum dengan logika
Bertaruh
harap sesak tak merisau
Bergelut
dengan segudang ilmu menggebu
Bertempur
dengan sejuta keluh peluh
Bersahabat
dengan tawa mentari
Mencari,
meraih secuil mimpi
Doa
tak pernah padam dari telinga
Maaf
, jalani dengan kenyataan
Gelagat
angan mengembara
Mengumpulkan
seperih ceria
Sampah
sampah dunia jadi saksi
Karna
kau aku hidup
Takdir
pertemukan tuk bersama
Mungkin
aku berdosa
Tapi
ku cukup berbakti
Penuhi
keinginan hati
Dan
senyum mereka
Menggapai
sepenggal asa
Mengais
sedikit isi bumi
Dari
sebukit limbah melimpah
Terbanglah
bersama,wahai garuda muda
Ku
kotor bukan tak ingin bersih
Ku
diam bukan berarti tak teriak
Ku
lemah bukan berarti tak mampu
Goreskan
indah warna pelangi
bukan
terbuang
Raih
inspirasi lama yang menghilang
Redam
hati meretak
Berjuang
belajar dari sejarah
Meraih
sesuatu yang turun dari langit
Teman
atau lawan?
Musuh
atau sahabat?
Semua
hanya sandiwara budaya
Jalani
sepenuh hati
Tak
soal nada apa yang kau pilih
Tak
penting bait mana yang kau seru
Ini
puisi bukan politik
Cita
cita kan tetap ada dengan doa mereka
Tergantung
tinggi di medali garuda muda
melayang
tinggi menjulang
Langganan:
Komentar (Atom)